Home

When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again…(Quotes from The Movie ‘Le Grande Voyage)

Jakarta diguyur hujan deras sore ini, meski cuma sesaat. Mungkin ada diantara mereka, penduduk Jakarta, yg tidak akan setuju dgn apa yg akan saya ungkapkan. Mereka yg rumahnya diintip luapan air banjir atau mereka yang terancam terlambat tiba di rumah saat pulang kerja karena harus melalui ruas jalan yang tergenang setiap kali hujan mengguyur Jakarta.Tanpa menghilangkan empati atas penderitaan sebagian mereka yang diakibatkan turunnya hujan, bagi saya jika ada satu dari sedikit momen momen dimana saya dapat merasakan keindahan suasana kota Jakarta, yang bagaimanapun saya mencoba tetap teramat sulit untuk dapat saya cintai ini, adalah ketika hujan turun membasuh wajahnya.

Ada secuil kedamaian yang jarang sekali hadir mewarnai udara ibu kota ketika hujan turun. Kesyahduan yang dibawa siraman tetes hujan yang bulirnya merayap di permukaan dinding kaca tempatku terduduk dalam keterpanaan. Didesak rembes air hujan, aroma tanah berarak naik mengisi molekul molekul udara yang kuhirup. Membius kesadaran dan keberadaanku. Menghapuskan sekat fisik yang dihadirkan kaca dan atap tempatku bernaung, meleburkan ruang antara aku dan hujan.

Sayup dalam gemuruh suara air hujan seakan terdengar jeritan sukacita permukaan tanah dan beton gedung-gedung tinggi yang selama ini merana, tersiksa sengatan panas matahari bercampur debu kota dan legam asap kendaraan bermotor yang menyesakkan. Aku merasakan kegembiraan rerumputan yang tumbuh berdesak-desakkan berebutan ruang dengan aspal jalan. Kegirangan pepohonan yang mencoba tetap berdiri tegak walau ringkih diantara himpitan bahu-bahu trotoar, didesak perumahan dan flyover yang dibangun tiada henti, tak lagi peduli peruntukan lahan dan tata ruang. Dedaunan menengadahkan segenap pori-pori wajahnya, seakan menyambut dan menantang hantaman tetes tetes air hujan yang tak kalah senangnya meluncur dari langit menuju bumi. Rintikan yang meliuk dihantar angin seperti seorang anak meluncur riang di atas perosotan. Tanah berbisik dan tetumbuhan berdoa: “Basahi kami wahai hujan, tampar kami dengan kesegaran singgasana surgawi, jangan lekas berhenti, kami merindumu oh inti dari kehidupan”

Di dalam hypnosis kelabu yang dihadirkan hujan yang mengguyur Jakarta, aku berfantasi Tuhan tengah meluruhkan jari jarinya yang agung dalam bentuk butir butir hujan untuk mencuci gelimang dosa manusia yang hidup di Jakarta ini. Dengan penuh kelembutan, setiap tetesnya menghanyutkan kekejian dan kezaliman yang kita lakukan setiap detiknya terhadap bumi. Nyala kesombongan manusia kota padam diguyurnya, ketidakpedulian larut dalam siramannya, menggelontorkan keakuan dan kemunafikan, begitu derasnya melewati gorong2, selokan, got dan sungai, bercampur dengan sampah-sampah warga ibukota. Jika jalannya tersumbat, bak bah, air terus bergerak melaju tanpa rasa gentar, jika perlu keluar dari jalur yg sedianya diperuntukan untuknya, meluap melalui jalan jalan beraspal, gang-gang dan terkadang halaman bahkan ruang tengah rumah penduduk, demi menjalankan titah Sang Maha Pengampun untuk membawa limbah dosa manusia hingga ke Teluk Jakarta. Sesampainya di muara, semua kemunafikan manusia dimuntahkannya ke lautan lepas, bersatu dengan samudera yang perlahan akan menyucikannya kembali. Di sana, di perbatasan antara daratan dan lautan, pasir, bebatuan pantai dan sulur mangrove berbisik lirih: ‘Dari-Nya semua berasal dan kepada-Nya semua akan kembali, semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa kita.’

Perlahan hujan mereda, mengisyaratkan kefanaan segala sesuatu yang ada di atas muka bumi, mengirimkan pesan alam: ‘bahwa semuanya akan berlalu’. Imajinasiku buyar dan perhatiankupun tersedot ke sebuah arah yang menghadirkan fenomena keindahan langit Jakarta pasca siraman hujan. Betapa langkanya memang pemandangan langit bersih yang ada di depan mataku ini. Sebuah mukjizat yang hadir persis beberapa saat setelah hujan berhenti sementara manusia yang berlalulalang di bawahnya tidak menyadari keberadaannya. Ketika tetes air yang masih hinggap di kaca depan mobil-mobil kita belum lagi pergi dan seakan berjuang melawan gravitasi. Ketika suara aliran air pelimbahannya masih lagi dapat kita dengar merambat melalui pipa pipa dari atap rumah kita. Ketika percikannya masih terus tersemburat dari genangan air yang digilas ban kendaran bermotor yang terus berpacu dengan waktu tanpa pernah mau ambil perduli. Sembari menatapnya,alam sadarkupun berkata inikah yang namanya keajaiban? Membentang luas sejauh ufuk horizon yang dapat kupandang, birunya langit Jakarta merona, terhampar tanpa cacat walau setitik, awan awan putih tipis berisi embun yang enggan turun ke bumi bersama hujan, seakan memang secara sadar memilih untuk menemani langit, menjadi dekorasi yang mempercantik wajahnya di kala hujan reda. Bumi terpekur khidmat, pepohonan dan dedaunan yg menengadah kini menunduk, bersujud. Memohon ampun atas selebrasinya yang berlebihan tadi. Akupun menyadari kelangkaan pemandangan langit bersih Jakarta sore ini ygsetiap harinya muram tertutup lapisan kelabu. Betapa anugerah keindahan yang seharusnya menjadi hak yg kita bisa nikmati setiap hari telah kita abaikan dan tidak kita apresiasi lagi selama ini. Betapa jarangnya warga Jakarta dapat menatap keindahan langit bersih miliknya sendiri? Sempat terlintas rasa curiga di kepalaku, atau jangan-jangan langit sendiri yang selama ini dengan sengaja menutupi wajahnya dari kami, karena ia malu dan tak sanggup lagi menyaksikan kebodohan yang kami lakukan dengan terang terangan di atas bumi Jakarta setiap hari. Bagaimanapun juga, dari atas sana, pasti semuanya tampak lebih jelas. ‘Oh langit… sebegitu hinanyakah kami di bawah sini?’

Menatap langit biru tanpa tabir lapisan abu polusi kota mendatangkan perasaan lapang dan tentram di hatiku. Perasaan yang, mungkin tanpa disadari, dirindukan banyak orang di Jakarta ini. Tenggelam dalam deru lalu lintas dan pergulatan pencarian kekuasaan dan materi. Ketentraman dalam relung jiwa yang sebenarnya kita terlahir bersamanya, namun kita buang agar tempatnya bisa diisi dengan kenikmatan dan ambisi duniawi. Hanya untuk menyadari bahwa ketika dunia dan isinya telah berhasil kita rengkuh, relung relung jiwa ternyata kita isi oleh sesuatu yang hampa. Ada sesuatu yang hilang dan kita menginginkannhya kembali. Lalu kitapun bersedia membayar mahal hanya demi sesuatu yang sebetulnya bisa kita dapatkan tanpa perlu membayar. Dengan rupiah kita mengira kita bisa menghadirkannya kembali. Seusatu yang pernah kita dapatkan dengan gratis namun kita usir pergi. Kita pun mencarinya lagi di mall mall, gedung-gedung dan rumah-rumah megah yang kita tempati. Tak kita temukan pencarian dilanjutkan di klab-klab malam dengan buaian ekstase alkohol dan dentuman musik yang menghentak jantung kita, mencoba mengusir kehampaan itu pergi dari hati, membuatnya berdetak dan merasakan hidup kembali. Tapi semuanya hanyalah imitasi. Kita terbangun di pagi hari, dan menyadari kebahagiaan kita yang sejati sudah enggan kembali. Kita tidak mengenali siapa diri kita lagi.

Suara jiwa kita mungkin sudah berada jauh di samudera lepas sana, meminta mentari sudi menjadikannya uap air dan mengembun dalam gemawan, menanti angin berhembus agar mendapat giliran turun sebagai hujan, untuk mencoba menyapa dan mengingatkan kita, pemiliknya yang sudah tidak mengenalinya lagi. Bagian dari diri kita yang telah berubah bentuk menjadi setetes air hujan, membawa pesan bahwa: ”Kebahagiaan sejati tidak dapat dibeli”. Kadang ia tidak perlu dicari, yang perlu kau lakukan hanya mendengarkan suara tetes hujan dan memaandang langit bersih selepas ia pergi.

Demi langit Jakarta yang bersih selepas hujan sore ini, kuberdoa: “Semoga suatu saat nanti dapat kupandangi wajah cantikmu setiap hari.”

Jakarta, 25 Juli 2011. 17.03. Selepas Hujan.

Advertisements

2 thoughts on “Jakarta Selepas Hujan Sore ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s